aku sedih seusai memasak mie yg tdk enak.
membuatku mengurungkan niat utk makan.
aku menelantangkan diri di kursi, memejamkan mata. Melepaskan diri dari rasa murung. Mie yg tdk enak ini membawa pikiranku ke mana-mana. Kepada semua kemalangan hidupku. Barangkali bukan hanya malang, tetapi setiap kesalahan dan perilaku buruk yg kubuat.
Mie yg tdk enak ini membawa pikiranku ke perasaan tdk berharga, disepelekan org lain, penghinaan org lain, direndahkan.
Membawaku ke ingatan kehidupan yg redup. Keluarga yg tdk utuh. Pekerjaan yg luntang lantung.Kehidupan yg tak pernah meningkat.
Baju yg tdk good looking, wajah yg pas-pasan, pekerjaan yg tdk berarti, penghasilan yg ada - tdk ada. Kebutuhan yg masih bnyk blm terpenuhi.
Rambut yg buruk.
Kulit yg buruk.
Bentuk tubuh yg buruk.
Kemampuan yg buruk.
Pengeluaran yg sia sia.
Masa depan yg redup.
Mie yg tdk enak ini mengingatkan ku pada kemampuan ku yg buruk. skincare yg aku butuhkan blm dpt aku beli, baju yg aku butuhkan blm dpt aku beli, kebutuhan dapur, mandi, yg kita butuhkan blm dpt kita punya. Sayur ikan yg ingin aku masak blm dpt aku wujudkan. Kebutuhan utk mengembangkan diri blm bisa di genggaman.
Membawaku ke pikiran besok masih harus bekerja dibawah org (hope u know what i mean)
Umur muda yg seharusnya banyak² menyenangkan diri, explore diri, kebutuhan sosialisasi, jarang dpt aku wujudkan. (make me feel soooo baaaad)
Mie yg tdk enak ini juga membawa ku pada perasaan kesepian. Ia seolah bisa menjelaskan dan menegaskan sebuah perasaan kesepian yg muncul.
Biasanya jika aku makan makanan yg enak, aku dapat menikmatinya bertemankan tontonan video di youtube. Itulah temanku. Teman makan. Teman di meja makan. Teman kesepian kapanpun. Tontonan yg biasa aja menjadi terasa menarik jika dinikmati bersama makanan yg enak.
Namun, makanan yg tdk enak membuat semuanya menjadi terasa hambar - kurang bergairah. Aku tdk bergairah menonton, dan melakukan apapun. Hanya berdiam diri dan tidur. Ingin melupakan semuanya.
Berdiam diri tak mengubah apa-apa. Perutku yg belum terisi tetap meminta jatahnya. Pikirku makanan pedas dapat membuat ku lbh baik. (Meski hanya sugesti). Lalu aku memilih keluar rumah menuju tempat seblak yg biasa ku pilih. Spt biasa aku memilih pedas. Agar merasa lbh baik. Pikirku. (Ternyata engga).
Di tempat seblak aku melihat kucing peliharaan setempat. Melihatnya aku jd berpikir betapa lbh beruntung nya nasib kucing itu drpd aku. Kucing itu bukan kucing kampung, bulunya berwarna putih abu abu coklat. Aku tak mengerti jenis apa, yg kutau dia bagus. Secara penampilan. Jauh beda dg ku, yg msh kampungan.
Lbh mudah hidup menjadi kucing cantik pikirku. Dia diperlihara, terpelihara, makannya diperhatikan. Tak ada beban hidup yg dipikul. Semua org menyukainya.
Beda dg ku. Banyak org tak menyukai ku. Penampilan ku buruk, wajahku buruk. Hidup pas pasan. Makan msh mikir. Beban ku msh bnyk. Tak memiliki satu pun org yg menyayangiku.
Ngomong² ttg sayang, ada chat dr pacarku yg kurang menyukaiku. Yg selalu tdk puas dg penampilan ku. Aku membalasnya. Ia menelepon video call yg berbunyi hanya 0-1 detik yg tentu tak sempat aku angkat. (Namun aku juga tak berniat mengangkatnya jika berdering panjang.) Dalam dering 0-1 detik itu, aku membaca keraguannya utk melihatku di video call. Sebelum aku angkat aku sudah merasa diri rendah penuh insecure akan penampilan diri. Yg nantinya membuat dia tak senang melihatku. Jadi, drpd melihatnya merendahkan ku lagi, aku tdk akan mengangkat video call darinya.
Aku tak tahu harus melanjutkan menulis apa. Dan aku tdk happy dg tulisan ini.
0 komentar:
Post a Comment