Supernova "Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh" - Dee

 

Supernova "Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh"
Penulis : Dewi Lestari
Tahun Terbit : 2001
Tokoh : Ferre, Rana, Dimas, Reuben, Diva, Arwin, etc
 
***

"Sesempurna apa pun sebuah tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, ia pun lepas mengubrak-abrik. Bahkan, dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesungguhnya chaos dan order hadir bersamaan, seperti kue lapis, yang diantaranya terdapat olesan selai sebagai perekat. Selai itu adalah zona kuantum; rimba infinit di mana seglanya relatif; kumpulan potensi dan probabilitas." - 4

"Dalam kehidupan sehari-hari, kehadirannya dapat terasa dalam bentuk intermittency atau ketidaksinambungan. Keterputus-putusan. Pardigma reduksionisme, yang telah berabad-abad mendominasi dunia Sains, tidak pernah memberikan perhatian pada fenomena ini. Dan, bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, maka ia harus siap-siap terguncang setiap kali memasuki area abu-abu dimensi kuantum. Karenanya, relativitas bagaikan kiamat yang mengagung-agungkan objektivitas. Sains ternyata tidak selamanya objektif. Sains, sering kali, harus subjektif." - 4
 
"Turbulensi dapat dianalogikan sebagai pigura hitam yang membingkai setiap kepingan gambar dalam reel film, yang ketika diputar dengan kecepatan 24 frame per detik, mata kita tidak akan melihat bahwa sebenarnya film tak lebih dari potongan-potongan gambar dan bukannya kontinuitas. Dalam realitas, turbulensi ibarat sebuah "Dapur Agung" yang transenden. Tak terikat ruang dan eaktu, berinteraksi dengan sinyal-sinyal nonlokal. Tempat diraciknya semua probabilitas, potensi, serta loncatan kuantum. Lalu, dari dapur tersebut tersajilah sup kehidupan yang nyata dan terukur, realitas yang bisa dicicip ataupun dihirup baunya." - 5

"Turbulensi hadir dimana-mana, dalam hidup organisme sesedehana bakteri sampai ke interaksi antarplanet di Bima Sakti. Tapi, kehadirannya selalu dianggap sekedar keberisikan, tak lebih signifikan dari bunyi "kresek-kresek" gelombang radio yang tak pas atau gambar statis sesudah acara televisi habis. Namun, sekarang sudah saatnya dunia sains mengalami turbulensi yang sesungguhnya, bahwa cara pandang reduksionis dan fisika klasik dari cermin kehidupan. Keteraturan mau tak mau harus berkaca, menemukan dirinya ternyata berasal dari sebuah Maha Keidakteraturan. Sama halnya dengan otak yang merupakan organ nonliniear tulen, ataupun denyut jantung yang tak beraturan, telah menciptakan order untuk seorang manusia dapat hidup." - 5-6

"Terciptanya sebuah sistem pada dasarnya diakibatkan atraktor yang terus menerus melakukan feedback atas dirinya sendiri. Proses arus-balik it kemudian menyebabkan sistem teramplifikasi, hingga tiba di titik di mana ia mengalami fluks, atau disodori "piliha" untuk berubah. Fase penuh kebimbangan itu lalu mencapai kulminasinya, sampai terjadilah apa yang dinamakan bifurkasi. Tonggak sejarah bagi sebuah sistem untuk berevolusi." - 6
 
"Jakarta. Aku setuju. Kota ini biangnya dualisme. Antara ingin Timur dan berlagak Timur, sembari terdesak habis oleh Barat sekaligus paling keras mengutuk-ngutuk." - 16

"Ingat, di dalam sistem sekompleks semesta, tidak ada perkara yang signifikan. Skala besar-kecil hanyalah minat-minatnya pikiran mayoritas manusia yang masih tergila-gila dengan ukuran. Pada titik tertentu, kisah cinta meerupakan cerminan kisah masyarakat yang lebih luas dan kolektif. Individu selalu dibangun oleh lingkungannya, bukan begitu?" - 17

"Tuhan berbicara lewat banyak hal, banyak mulut, dan banyak peristiwa." - 53

"Ketika kita balikkan cara pandang kita, kenyataan pun berubah. Ternyata, pelacuran terjadi dimana-mana. Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya. Dan, bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yang paling hina?" - 69

"Atau tepatnya, kotoran hidung yang masih menganggap dirinya Grand Canyon. Kapitalisme sudah menciptakan format demokrasinya sendiri, kok. Dengan pertama-tama membuat transisi kedaulatan dari negara ke perusahaan transnasional. Dan, jangan lupa magic-spellnya; dari konsumen, oleh konsumen, untuk konsumen. Tapi, yah, setidaknya negara harus tetap kelihatan punya peran di depan warga-warganya yang belum sadar dan dijaga untuk tetap tidak sadar itu. Entah sampai kapan." - 76

"Tomat tak pernah keberatan buahnya dihuni ulat, juga tak berbuat apa-apa bila dilekati pestisida. Ia rela mati untuk hidup kembali. Sementara petani bertahan mati-matian untuk hidup." - 87-88

"Pendidikan sekarang sudah jadi bisnis, Non. Dunia ini semakin mahal, ilmu tidak terkecuali." - 94

"Orang-orang diajarkan untuk berpikir parsial, tidak menyeluruh, timpang. Makanya kalau ngomong suka ngaco dan bikin keputusan simpang siur. Arogansi pengetahuan yang berlebih, arogansi agama yang berlebih, arogansi budaya yang berlebih, itu semua kareena pendidikan yang basisnya parsial. Sementara konteks utamanya malah ditenggelamkan." - 97

"Puisi membutuhkan lebih dari sekedar jam terbang. Ingat, aku pernah bilang soal pekerjaan yang masih punya ruang untuk inspirasi? Penulis puisi bukan hanya mendengar ketukan inspirasi di pintunya. Dia merobohkan seluruh dinding. Inpirasi nggak perlu lagi ngomong permisi." - 105

"Dan, waktu adalah pak tua yang cuma diam mengamati, angkuh memegangi bandul detiknya yang tak berkompromi." 120
 
"Kalau kata Einstein, waktu itu seperti karet. Elastis." - 121

"Otak kita adalah generator bipolar. Setiap input yang masuk langsung terbagi ke dua jalur. Jalur pertama, diterima oleh cortex, yang fungsinya menerjemahkan stimulus ke dalam siklus atraktor yang terbatas, atau disederhanakan sedemikian rupa sehingga jadi informasi yang terkategori, entah itu bau, rasa, dan sebagainya. Dengan kata lain, cortex mengorganisasi chaos. Sementara jalur kedua, input ditampung oleh semacam generator acak. Input di situ beersifat nonspesifik, tidak terstruktur. Atau saking kompleksnya, tidak ada informasi yang bisa diterjemahkan. Matti Bergstrom, ilmuwan Finlandia yang meneliti masalah ini, bilang bahwa generator acak itu bisa kita rasakan waktu kita benar-benar baru bangun tidur. Kosong dan nggak ingat apa-apa, sampai akhirnya cortex kembali membanjiri informasi. Mengingatkan namamu siapa, sejarah hidupmu bagaimana, hartamu apa saja, pacarmu yang mana---" - 122

"Dalam kekalan hadir segalanya. Medan matrix yang tak terhingga berisi segala probabilitas dan potensi. Pada hakikatnya, semua ramalan berbicara di level potensi. Namun, kita menjalaninya dengan tendensi. Tendensimu akan memanifestasikan potensi tertentu. Tidak ada kemutlakan. Tapi, pointnya adalah potensi yang termanifestasi dan tidak, nilainya sama-sama saja. Tidak menjadikan yang satu lebih penting dari yang lain. Itulah dahsyatnya kekekalan." - 124

"Berarti ada dua aspek dalam memahami realitas. Pertama, aspek lokal yang berkenaan dengan otak sebagai organ yang empiris. Lalu, aspek global yakni kesadaran yang mencakup semua pengalaman empiris, termasuk pengalaman memiliki organ otak itu sendiri." - 124

"Begini. Sama halnya dengan otak, tubuh kita dan semua benda lain juga punya dua aspek. Ia punya elemen-elemen nonlokal yang menjadikannya objek kuantum, tapi di satu pihak, ia juga objek klasik yang punya massa, dan penyebaran gelombang kuantumnya cenderung lambat. Kelambatan itulah yang menyebabkan lintasan dari pusat massa objek jadi sangat tertebak, yang akhirnya menciptakan semacam aura kontinuitas. Inilah yang disebut "konsensus". Bulan itu tetap ada di posisinya sekalipun kamu atau aku menunggingi langit. Kompleksitas dari benda makro membutuhkan regenerasi waktu yang panjang untuk sampai bisa diterjemahkan. Ini yang kemudian membentuk memori." - 125
 
"Sekarang bayangakan, sebuah otak rata-rata memproduksi 14.000 pemikiran per hari, lima juta per tahun, dan 350 juta selama hidupnya. Untuk tetap waras maka mayoritas pemikiran itu hanya berupa pengulangan gema. Dari sudut pandang fisikawan, semesta tak lebih dari sup kuantum yang membombardir indra kita dengan miliaran data setiap menitnya. Jumlah sebegitu adalah chaos, jadi harus bisa diorganisasi ke dalam angka yang terkendalikan. Disitulah otak mengambil peran. Denagn tujuh respon dasarnya, otak tidak hanya menjaga kewarasan, tapi juga mampu menyuguhkan seluruh semesta." - 125-126
 
"Pertama, respon hidup dan mati. Respon paling dasar. Bahkan, kutu rambut pun memiikinya. Lewat respon ini, hidup diproyeksikan sebagai rimba perjuangan, dan tujuanmu satu, bertahan hidup. Kedua, respon reaktif. Ini adalah upaya otak untuk menciptakan identitas. Setelah melewati tahap pertama, maka muncul kebutuhan yang lebih kompleks, yakni ke-aku-an, kepemilikan. Ini jugalah perkennalan pertama kita dengan konsep kekuasaan, aturan dan hukum. Ketiga, respon relaksasi. Ditengah hiruk pikuk dunia materi, otak yang senantiasa aktif pu menginginkan kedamaian. Ia ingin tenang, dan ia ingin yakin bahwa dunia luar bukanlah sumber segalanya. Nah, ketika ia mulai berpaling ke dalam, muncul respon keempat, respon Intuitif. Otak mencari info ke luar dan juga ke dalam. Pengetahuan eksternal bersifat objektif, dan yang internal bersifat intuitif. Pada tahap ini ia mulai bersandar pada apa yg ada di 'dalam'. Kelima, respons kreatif, manusia dimampukan untuk mencipta, mengeksplorasi fakta. Kemampuan ini datang dalam momen yang penuh keajaiban, yang sering kita sebut inspirasi. Kita berkaca pada sang Pencipta, atau apapun istilahnya, dan melalui refleksinya kita mencicipi peran sebagai kreator. Keenam, respon visioner. Otak memiliki kemampuan kontak langsung dengan kesadaran murni yang sama sekali tidak ditemukan di dunia materi. Pada level inilah terjadi apa yang namanya mukjizat atau fenomena-fenomena magis. Ketujuh, respon murni. Otak kita berawal dari sel yang tidak memiliki fungsi-fungsi otak. Ia berawal dari satu cercah kehidupan. Tak terkategori. Sekalipun ada sistem saraf kompleks dan miliaran neuron yang bergantung pada otak, tapi otak sendiri tidak kehilangan akarnya pada kemurnian. Itulah sumber yang sesungguhnya. Sesuatu yang tidak perlu berpikir, tetapi ada. Melalui ketujuh respon ini, manusia melihat dunia terbentang untuknya. Dan, apa yang ia lihat bergantung dari respon mana yang ia pergunakan. Otak adalah alat yang disediakan bagi kita untuk bermain dengan hidup. Permainannya sendiri? Terserah Anda." - 126-127

"Ada batas ketinggian maksimum untuk hak sepatu. Yang menurutnya patut dikasihani adalah orang-orang yang berupaya untuk mencuat dengan berjinjit diatas kemunafikan. Yang haus akan elu-elu tak bermakna. Yang meletakkan harga dirinya di sewujud tubuh molek, atau di serawut wajah cantik tapi mati. Yang menggantungkan jati dirinya di gedung perkantoran mewah bertingkat empat puluh, di besar kecil kucuran kredit bank, atau pada sebuah titel yang memungkinkan mereka membodoh-bodohi sekian banyak orang bodoh lain. Lalu, mereka tak henti-hentinya merasa lebih. Bagaimana juga nasib monyet-monyet korporasi yang tengah merambati pohon karier dengan otak mereka yang semakin gersang? Apa rasanya tersandung dari ketinggian seperti itu? Ia yakin tak akan sanggup tertawa." - 172-173




 



0 komentar:

Post a Comment


 

🎐 Template by Ipietoon Cute Blog Design