"Supernova, aku ingin terbang. Ajarkan aku untuk menutup kuping terhadap raungan bumi dibawahku nanti. Ajarkanku percaya pada kekuatan sayapku. Ajarkan aku percaya bahwa aku bisa TERBANG" Page 225, Supernova (Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh)
Itulah sepenggal keluhan Rana kepada Supernova.
Aku sendiri pun sama dengan Rana. Ingin terbang sejauh mungkin. Melayang hingga hilang, ditelan abu-abunya aurora bernama kabut mendung. Tapi pada siapa ku memohon? Aku tak punya Supernova. Supernova yang mewujud cyber avatar, si pelacur dermawan nan cerdas.
Ibu, Aku ingin bertemu ibuku, yang mungkin kalau aku terbang, bisa ku temukannya di langit sana. Dan, ikut tinggal-tak kembali. Enak kali, tidur beralaskan kasur awan-awan yang bisa kujadikan tempat lompat trampolin. Makanku apapun yg ku mau, bak telah di alam surgawi. Minumku, air hujan dari awan yang ku tunggangi. Lucu ya, tempat tidur bisa sekaligus mengatasi dahagaku, setelah menjadi umpatan lelahku.
Berdua. Kita berdua. Hanya berdua. Kita hanya berdua. Ibu, mentarinya. Aku rembulannya. Rembulan yang berpangku pada Matahari. Cahayaku pun di transfer dari Matahari dulu, dan dibantu gelap, baru bisa terang. Benar-benar cocok sbg Ibu dan Anak. Matahari dan Rembulan. Jelasku lagi.
Berdua. Kita hanya berdua. Menari bersama. Cengar cengir menertawakan bodohnya tingkah-tingkah manusia di bumi. Manusia dan Bumi adalah Bioskop paling seru, tak ada tandingan. Dan kita penonton paling beruntung.
Tak perlu lagi cemas menyambut Ramadhan tak ada mentariku. Tak perlu lagi ku tampung celetuk-celetuk kotor rumah, hingga tak perlu lagi ku korek-korek kupingku dg lidi kapas bertema Cinderella dan kawan-kawannya. Tak perlu repot-repot mengemban tugas anak pertama, tanggung jawab orang dewasa. Tak perlu ku saksikan drama sana sini yg memuakkan.
Bagiku, menjadi anak-anak jauh lebih menyenangkan. Tentu, kau pun setuju. Jika di bumi aku menjadi orang dewasa yg membosankan, di langit aku menjadi anak-anak yg senang merengek pada Ibunya, minta rambutku dibelai. Sebuah pelukan hangat, tak ada dua.
Aku ingin bebas tugas. Terbang, dengan sayap kepercayaan.
Tapi, aku masih saja di bumi. Dalam kamar gelap bertemankan kipas angin yang tak pernah padam. Ia bekerja full time tanpa digaji. Ialah si setia, tanpa keluhan apapun.
Rasa kepercayaan tak membawaku kemana-mana. Ini masalah. Orang-orang bisa saling bunuh karena rasa percaya.
Jika di langit, aku bisa cerah, maka di bumi, akulah si abu-abu, tanpa huruf B di depan. Tapi, hidupku terasa seperti babu juga. Babu untuk tanggung jawab, babu untuk masa depanku sendiri.
Jangan ngomongin masa depan deh! Aku tak punya itu. Tak punya kemampuan apapun selain tidur. Kadang tidur beneran, tidur-tiduran, setengah tidur sampai pura-pura tertidur. Hibernasi adalah satu-satunya kemampuanku. Anehnya, badanku segini-gini saja. Tak naik tak turun. Hanya saja, pipiku yg menggelembung, kebanyakan terbentur bantal.
Anehnya, aku tak iri sama sekali setiap melihat story teman-temanku yg selalu meng-update kehidupannya yg sudah berjilid-jilid. Sudah lulus kuliah-bekerja-menikah-punya anak-bekerja-beli ini itu-buka usaha ini itu. Aku sendiri, ehm, belum lulus kuliah-pengangguran-jomblo-menkhayal-tidur-mengkhayal-tidur-tinggal nunggu mati-
Aku tak benci keadaanku yang berjalan di tempat. Tak punya penghasilan pun aku tak cemas. Bukan aku seorang yg banyak duit, tapi aku tak punya kebutuhan apa-apa yg ingin ku beli. Kebutuhan itu, cuma tersimpan dalam kertas berjudul "Inget Nabung". Satu per satu dari mereka pun tak ada yang sudah tercentang.
Aku tak pernah mengenal kata cepat-cepat dan buru-buru lagi setelah gagal lulus kuliah tepat waktu, atau terlambat sedikit. Setelah kebablasan begini, semuanya ku biarkan, terserak sendiri. Berharap PR hidupku yg satu itu bisa berjalan sendiri tanpa harus ku temani. Skripsi yg bisa mengetik dirinya sendiri. Skripsi yg bisa berjalan ke lokasi penelitian sendiri. Skripsi yg bisa ngomong sama informan sendiri. Dan, skripsi yg bisa presentasi sendiri. Lalu, aku bisa tidur santai tanpa gangguan. Sendiri.
Hidupku terlalu santai. Tiap kali ketemu teman teman masa lalu. "Kerja dimana, Hen?" "Ah, santai masih menikmati hidup" jawabku tersenyum sok menikmati hidup. Bahkan dua hari yang lalu, baru ketemu teman SMP, seorang teman duduk kelas tujuh, katanya berniat mengenalkan aku dg teman suaminya. Nyari jodoh, katanya. "Aku masih ingin ngejar yg lain-lain dulu" kataku sok ada yg sedang ku kejar. Padahal, tujuan hidup pun tak ada. Tinggal nunggu mati. Terkubur bersama cacing-cacing tanah.
Oh ya, aku jadi punya ide, sepertinya satu-satunya cara bisa terbang adalah, menyatukan diri bersama cacing dalam tanah. "Cing, makan aku sekarang" kataku. "Biar apa? balas cacing. "Biar aku bisa terbang" balasku mantap!
Heny : "Kok aku ga terbang-terbang, Cing? Gimana nih?"
Cacing : "ya nggak lah. kamu belum punya tameng buat terbang kok"
Heny : "tameng? apa itu?"
Cacing : "Rasa percaya dan keberanian"
Heny : "apa-apaan. aku sudah mencoba terbang dg sayap rasa percaya. gak mempan tuh"
Cacing : "tapi kamu gak mati-mati ini meski aku memakanmu."
Heny : "apa hubungannya dg rasa percaya dan berani?"
Cacing : "ya kamu harus percaya dan berani mati dulu. baru kamu mati"
Heny : "bunuh diri ya? ih ngeri. katanya, langsung masuk neraka!"
Cacing : "ya udah jangan berharap bisa terbang kalau gitu. minta dikasi mimpi terbang aja, beres"
Heny : "Kalau itu gampang, aku ga akan bangun-bangun, Cing, sekalipun aku ini Kang Jago Turu."
Tiba-tiba chat dari teman masa lalu lainnya datang. "MASA DEPAN MASIH CERAH KOK" Katanya, ngga pakai kapital dan ga pakai bold capital, hehe
***
#RamadhanChallengeDay2

0 komentar:
Post a Comment