Manusia Satu Dimensi



Eksistensi dan Narsisme sudah menjadi pengganti Tuhan. Kuota bagaikan malaikat. Orang-orang menyembah berhala berwajah lain. Berubah wujud menjadi zombie-zombie yang haus akan kuota. Kaum fakir yang tersesat. Gelandangan di ruang semu. Dibodohi oleh kata-kata manis "Klick Bait." Perayu sebenarnya. Tersesat oleh kata "Viral" dan tidak tahu jalan pulang. Setelah laris, mereka menjual kesedihan hidupnya. Mengejar logaritma "like". Ditenggelamkan oleh dunia "Cyber Avatar."

Bekerja berdasarkan standarisasi yang tak menentu. Mencari identitas sesuai ekspektasi orang-orang. Lalu mati berserakan seperti sampah yang tebawa arus angin. "Aku eksis, maka aku ada". "Tak ada like, maka aku tewas." Inilah bentuk lain dari "sesat pikir." "Ga joget, ga makan." Hiburan yang memuntahkan. "Tinggal klick, beres." Sebuah praktisasi kehidupan manusia modern. Katanya.

Mereka mati sebelum dimatikan. Manusia satu dimensi yang kehilangan titik kritisnya. Segala bisa diperdagangkan. Mereka melacurkan waktu, pikiran, jiwa, tubuh, bahkan harga dirinya. Merekalah pelacur yang sesungguhnya.

Orang-orang yang dianggap suci juga sama narsisnya. Satu ayat yang suakan, berjuta-juta harganya. Bukankah Tuhan menurunkan ayat suci-Nya dengan tanpa meraup rupiah dari makhluk-Nya?

Bahkan, Tuhan tidak eksis, Tuhan tidak narsis. Namun, Dia tidak meraup keuntungan apapun dari hamba-hamba-Nya. Melainkan dosa-dosa yang terus mengalir dari tubuh makhluk-Nya.

Manusia-manusia pendosa. Manusia-manusia kebanyakan.

0 komentar:

Post a Comment


 

🎐 Template by Ipietoon Cute Blog Design