![]() |
| Lokasi misi kedua : "Sang Kiai dan Sejuta Pohon." |
(((Bukan Si Kera Sakti)))
Sebuah perjalanan mencari kitab suci telah ku mulai sejak 3,5 tahun yang lalu.
Taik banget sampai sekarang belum juga ketemu.
Perjalanan berawal saat aku bersama ketiga kisanak berguru di perguruan berbentuk kaleng, di wilayah Batavia. Masing-masing dari kami mendapatkan misi dan seorang suhu guru yang berbeda. Misi untuk mendapatkan kitab suci.
![]() | |||||
| Lokasi Misi Pertama : "Ngali dan Sang Kiai" NB : Itu aku abis pipis di kali xD 2018 | |
Suhuku memberikan tugas berkelana ke Gumi Gora bagian timur untuk memecahkan misi berjudul "Ngali dan Sang Kiai". Perjalanan ke sana tidaklah semudah aku menemukan rerecehan kepeng di kantung saku ketika hendak mencuci baju. Aku berada di pedalaman. Dan sayangnya, ini menjadi kegagalan misi pertamaku.
![]() |
| Lokasi Misi Kedua : "Sang Kiai dan Sejuta Pohon." 2018 |
Misi kedua menghantarkanku ke Gumi Gora bagian barat. Misi ini bernama "Sang Kiai dan Sejuta Pohon." Masih juga pada pedalaman. Namun ada banyak benih-benih unggul pada pondok pesantren disana. Merekalah prajurit-prajurit "Hwarang" yang melantunkan ayat-ayat kitab suci. Aku menjadi percaya diri. Aku merasa semakin dekat dengan kitab suci itu. Namun ternyata aku tersesat. Sang Kiai tak jua ku temukan.
![]() |
| Lokasi Misi Ketiga : "Rasionalitas Jalanan." 2018 |
Misi selanjutnya, kuberi nama "Rasionalitas Jalanan." Kali ini, dekat dengan tempatku berguru. Belum sempat aku menyelami banyak hal, aku sudah kalah dengan keadaan. Kendala tak punya kuda dan ketidak minatanku, lagi-lagi menjadi suatu alasan. Aku pulang dengan tangisan keras dibalik bilik sederhanaku.
Sementara, ketiga kisanakku, sudah tuntas dengan misinya.
Aku pun memilih tidur bertahun-tahun.
![]() | |
| Lokasi Misi Keempat : "Nambang dan Solidaritas." 2019 |
Sampai pada hari ini, aku terjebak dengan misi "Nambang dan Solidaritas." Berada di padepokanku sendiri. Sebenarnya, misi ini aku paling tak sudi. Aku perempuan. Aku dipaksa mencari tahu pekerjaan lelaki. Entah apa yang enak dari mencari emas dalam lobang, lalu mati kehabisan nafas di dalamnya. Kusebut ini sebagai pekerjaan "mencari emas dalam kematian. Aku tak tahu ini menjadi pelabuhan terakhirku atau tidak. Semoga saja, terakhir.
Malam ini, sembari sakit gigi, aku masih bertapa di ujung pegunungan. Tapi bukan pegunungan tempat orang-orang mencari emas kematian. Mulutku komat-kamit membaca mantra. Sembahyang pada Sang Gusti. Mempraktikkan berbagai jurus hingga mengeluarkan sesuatu yang warna-warni, seperti di film laga-kolosal. Jari-jariku menulis sansekerta.
Perjalananku bak sakit gigi.
Duh, Ngelu.





0 komentar:
Post a Comment