Ini adalah diskusi mendalam mengenai fenomena hijrah dengan narasumber dari Habib Husein Jafar Alhadar, seorang yang berkecimpung di dunia ilmu tafsir Alqur'an dan aktif menjadi penulis serta berdakwah di channel Yotubenya yaitu "Jeda Nulis".
Hijrah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata hijrah adalah berpindah atau menyingkir sementara waktu dari suatu tempat ke tempat yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan dsb).
Sekarang, mari kita simak hasil diskusi tentang Hijrah dari pemaparan QnA bersama Habib Husein Jafar Alhadar.
Q : Hijrah adalah berpindah dari suatu tempat ke tempat lain demi suatu kebaikan. Yang Habib temui selama ini, betulkah yang terjadi seperti itu?
A : Pada dasarnya kalau kita mengacu pada Alquran surat Alfalaq ayat 11 hijrah itu secara substansial adalah bergerak dari kegelapan menuju "Nur" (cahaya), sehingga ia akan bersifat substantif dan bersifat holistic, artinya utuh. Yang di hijrahkan bukan hanya tentu fisiknya, tetapi juga batinnya. Artinya, bahwa yang awal harus di hijrahkan sebenarnya, bukan pada perkara-perkara fisiknya saja.
Q : Jadi bukan luarnya saja?
A : Justru yang harus di hijrahkan di awal itu adalah hatinya. Karena hati itu adalah penggerak dari segala sesuatu dari yang ada pada diri kita. Mustahil jika kita punya logika bahwa hati akan mengikuti fisik. Misalnya, di hijabkan dulu kepalanya, baru nantinya hatinya akan mengikuti kepalanya. Bagi saya mustahil kalau secara fisik kita dulu diperbaiki, dan kemudian hati akan mengikuti. Yang ada secara logis, segala sesuatu yang ada pada diri kita itu mengikuti hati kita. Makanya, yang seharusnya di hijrahkan pertama adalah hatinya. Dari yang dulunya, misalnya dalam kekhilafan atau dalam serba kekurangan menuju serba kelebihan dan serba cahaya.
Q : Dan itu akhirnya transformasinya sampai ke luarnya pun?
A : Iya, keluarnya pun.
Q : Haruskah?
A : Tidak mesti. Ketika hatinya sudah hijrah, maka islam itu pada dasarnya berbicara tentang substansi dan hati. Luarnya, itu hal-hal yang seringkali bersifat simbolik, itu melebihi dari apa yang diinginkan oleh islam. Islam itu selalu mengukur orang secara kualitatif, tidak secara kuantitatif. Misalnya kita temui di beberapa kalangan umat islam, sebagian mereka misalnya islam meminta mereka untuk menutup aurat, dan jenis pakaiannya seperti apa itu tidak diatur dalam islam. Misalkan Anda harus bersarung, anda harus berjubah, atau anda harus bercelana, ga ada islam ga mengatur. Islam hanya mengatur dari segi kualitas bukan dari aspek kuantitas, bukan aspek luarannya. Maka selama anda menutup aurat maka selesai, berarti kita sudah islami. Menutup auratnya pakai sarung, jubah, celana dll itu terserah sesuai dengan aspek latar belakang kita. Kalau musisi ya jangan pakai sarung jangan pakai jubah, ya pakai celana agar menarik, agar menunjang performa dia sebagai musisi. Kalau sebagai ustadpun, bahkan saya sebagai ustad karena tuntutan misalnya untuk masuk ke generasi millenial ga mau untuk tampil yang terkesan akan membangun jarak kita dengan generasi millenial, makanya saya mengoptimalkan penampilan saya dengan penampilan yang sangat millenial dan itu sering menjadi pertanyaan bagi orang. "Ustadz atau Habib kok ga pakai jubah ya?" Seolah-olah hal-hal yang fisik itu yang bersifat islami, padahal ngga. Substansinya dan kualitasnya yang penting. Makanya kalau kita memang untuk kepentingan suksesnya dakwah, kemudian secara fisik bahkan saya sering katakan saya ini kalau memang harus jadi badut untuk suksesnya gerakan dakwah saya maka saya akan melakukannya, dan itu mencontoh nabi. Nabi itu dikatakan dalam Al-quran : melakukan segala sesuatu, malam-malamnya dihabiskan untuk memikikirkan berbagai cara dan siang harinya dihabiskan untuk mencoba metode yang sudah dipikirkan di malam hari. Bagaimana sekiranya umat yang dihadapinya itu masuk ke keharibaan islam, karena itu adalah jalan keselamatan yang di wahyukan kepada nabi.
Q : Makanya saya sedih gitu, saya kan pengen berhijrah, tetapi saya ini sudah berjilbab sejak kecil. Jadi kalau kondisinya sudah berhijab dari dulu, tapi pengen berhijrah, berarti dia masih bisa berhijrah dong?
A : Iya, artinya itu point lainnya adalah bahwa islam itu bukan warisan. Mungkin sejak awal sudah di setting oleh orang tuanya untuk berkerudung, maka hijrah dalam pengertian ini adalah bergerak dari islam yang awalnya warisan menjadi islam yang kemudian secara kita pilih secara berdaulat. Artinya kita belajar, kita membaca kitab suci, sunnah, kita mempelajari, untuk kemudian kita bergerak dari islam yang awalnya warisan menjadi islam yang kemudian kita pilih secara berdaulat sebagai pribadi. Karena setiap orang harus mempertanggung jawabkan imannya sendiri-sendiri nanti di hadapan Tuham, bukan karena orang tuanya nanti yang diminta pertanggungjawabkan, bukan siapa-siapa, setiap kita mempertanggung jawabkan. Misalnya, kita berlomba-lomba dalam ibadah. Kita ini setiap tahun mengirim 230 ribuan jamaah haji, tapi kemudian perubahannya bagi peradaban bangsa apa misalnya. Padahal haji mengajarkan kita untuk menghilangkan ego, untuk ketika kita ihram pakai baju putih, dimana tidak ada lagi pangkat misalnya, tidak ada lagi pakaian mewah si kaya dan si miskin, semuanya menjadi sama. Maka seharusnya sepulangnya, dia membawa pesan-pesan keadilan, pesan-pesan kesetaraan. Tapi kita tiap tahun mengirim 230 ribuan jamah haji, apa perubahannya bagi bangsa?
Q : Tapi saya tahu kalau misalnya haji ini pulang dalam keadaan memang di ridhoi sama Allah sama yang ngga. Itu pas saat ngemci, khitanan. Kalau tiba-tiba, panitianya bilang jangan lupa pakai haji ya, suka marah bapaknya. Berarti ngga di ridhoi dia. Riya', sombong. Emang riya', sombong gitu ga sih bib?
A : Iya, dalam hadits, ada itu sebagian umat islam nanti di akhirat yang bangkrut. Ibadahnya kuat, sholat, puasa, zakat, haji, tapi kalau di ujungnya ada riya' dan sombong, maka kata nabi mereka akan menjadi orang yang bangkrut. Seperti satu tambah satu, ibadah itu deretan angka. Tapi diakhirnya kalau ada sombong maka dia seperti dikalikan 0, hasilnya 0 di sisi Allah. Karena, ya buat dirinya sendiri kan, buat kebanggaannya dia bukan untu Allah SWT.
Q : Kalau misalnya, biar saya pancingannya biar hijrahnya bener, pancingannya okedeh saya akan hijrah tapi lumayan nih hijrah ini bisa mencari duit nih. Misalnya saya komika nih, saya akan bilang saya Mc Dhanny komika syari'ah, atau komika hala 100%, untuk jualan bib. itu boleh ga?
A : Gini, bahwa ekonomi itu adalah salah satu yang sangat dipentingkan dalam islam. Misalnya kalau kita mengacu kepada survey situs syari'ah, menjaga harta itu salah satu point dari diturunkannya syari'ah. Artinya ekonomi itu sesuatu yang penting. Nabi pun ketika hijrah dari Makkah ke Madinah salah satu yang pertama yang dibangun oleh Nabi adalah pasar. Karena ekonomi adalah sumber peradaban. Bahkan dalam salah satu perkataan dikatakan, "kefakiran itu bisa membuat orang menjadi kafir." Artinya ketika dia bingung dia bisa menjual harga dirinya atau bahkan menjual agamanya. Maka ekonomi sesuatu yang penting. Tapi, kembali lagi, Nabi tu ketika hijrah ke Madinah, itu Nabi menunggu perintah dari Allah SWT terlebih dahulu. Mungkin sebelumnya beberapa sahabat bahkan dikisahkan sudah meminta Nabi untuk hijrah ke Madinah. Tapi kata Nabi ngga, saya nunggu perintah dari Allah. Artinya, kunci dri Hijrah itu adalah harus karena Allah dan untuk Allah.
Q : Tapi kalau imbasnya nih, ada data, jadi katanya setelah berhijrah justru katanya memang makin banyak rejekinya. Rejeki followers, rejeki bisnis, seperti para artis, karena udah ada marketnya begitu. Jadi memang bener dong kalau hijrah tu membawa berkah?
A : Berkah kalau dihitung dengan perspektif ekonomi ya ngga juga. Artinya bahwa hijrahnya karena Allah, bukan hijrahnya karena ekonomi, jangan karena luaran seperti tadi yang saya bilang gitu, tapi karena hatinya. Perkara kemudian ekonomi menjadi salah satu program dalam hijrah ya ga ada masalah karena memang islam sangat menekankan itu.
Q : Itu bonus ya jadinya?
A : Bonus aja, tapi jangan kemudian menjadikan "oh saya hijrah karena ingin mengikuti para artis ini yang subscribernya yang akhirnya nambah". Ya kalau diukur dengan itu, banyak yang ngga hijrah lebih banyak kok.
Q : Habib, kalau demikian, batasan antara syiar dan riya' itu seperti apasih habib? Karena, para selebritas yang berhijrah ini misalnya tampil di media sosial menyampaikan aktivitas mereka, foto-foto telah berhijab, dan lain sebagainya, alasannya ini adalah syiar dan kalau syiar tidak ada salahnya tentu.
A : Nah, pada akhirnya kan segala sesuatu yang berkaitan dengan agama itu tentang diri kita dengan Allah SWT, tidak dengan yang lain sehingga jangan pernah kita terpengaruh oleh selain diri kita. Agama itu betul-betul adalah kemesraan antara kita dengan Tuhan, sehingga pada akhirnya yang bisa mengukur mereka riya' atau tidak adalah sebenarnya diri mereka sendiri, karena itu agama mendidik sejak awal "kalian ini adalah hamba yang merdeka, maka jangan mau diperbudak oleh siapapun." Maka, kita ga berhak kemudian melihat "oh ini riya' atau ngga" jadinya kita yang bermasalah secara agama. Biarkan saja mereka setiap orang mempertanggung jawabkan dirinya di hadapan Tuhan.
Q : Siapa yang bisa menilai proses hijrah seseorang?
A : Sebenarnya tolak ukurnya mudah sekali. Seorang mukmin kata Nabi di dalam haditsnya adalah seorang yang di sebelahnya tidak merasa terganggu dengan kehadirannya, baik secara lisan maupun secara tangan. Artinya, ukurannya adalah akhlaq. Kalau seorang benar-benar berhijrah hatinya, maka dia akan menjadi pribadi yang bukan hanya ke dalam diri dia sendiri, tapi baik kepada masyarakat yang di sekitarnya.

bagus kaka jgn lupa mampir kaka diblog aku ya
ReplyDelete