Silih Warsa


Dan tahun pun berganti...


Pagi yang larut ini di 00.00, belakang angka '201' kembali berubah. Orang-orang sudah siap dengan jagung mentah, ikan, api, dan tumpukan kayu lengkap dengan arangnya di depan halaman. Mereka duduk manis menatap langit sembari bersantap. Kehangatan sebuah keluarga. Ada juga yang memilih kumpul-kumpul pergi entah kemana. Yang pasti mereka bersenang-senang. 

Di 00.00-1/1, mereka semua menghadap langit, mata mereka kelap-kelip, menyala sesuai warna ledakan cantik diatas udara. 

Orang-orang pada senang. Mengambil polpen dan buku. Menulis resolusi. Menyambut challengenya. Bersiap mendewasa, meroket dan jatuh.

***
Setiap warsa ada masanya. Punya awal yang menidurkan. Lalu memimpi, angin yang selalu menerbangkan. Menata kembali. Membuat perencanaan. Memulai startnya lagi.

Saat bangun, langit menggelap seenak cuaca. Rintik jatuh membawa petir tanpa mau berkompromi. Angin sepoi-sepoi yang diimpikan berbalik menjatuhkan, menyerang tanpa alasan. Angin dunia nyata. Rutinitas yang memabukkan. Detik, menit, jam, hari, siang, malam bersilih saja sudah sebegitu menakutkannya. Apalagi tahun.


Diujung kasur, ada orang yang selalu takut menatap ke jendela. Dibalik kelambu maroon, matahari terasa tidak menghangatkan lagi. Semenjak itu, malam menjadi sahabat paling mengerti. 

"Jangan kau mendekat wahai matahari" lirik Peterpan itu selalu saja terngiang. Seolah mendeskripsikannya tanpa kenal jeda.



Pikiran-pikiran bergaduh laksana kucing tersesat tak dapat keluar dari gelapnya goa. Pikiran yang butuh kehangatan. Kefrustasian.

Pergantian tahun yang dulunya bersahabat, menjadi tahun penuh tuntutan. Sebagian orang hanya bisa menutup telinga dari hiruk pikuk gemerlap kembang api.


Bahwa, semakin tua tahun, kamu ikut tua. Tua berarti menuntut kedewasaan, tanggung jawab dan challenge hidup yang lebih besar.


Pergantian tahun jua yang mengajarkanku untuk tidak peduli lagi akan ulang tahun. Tidak ada orang yang ingin mengulangi tahunnya. Mengulangi kesalahan yang sama atau bertemu kesalahan lainnya. Mendekati tuanya. Meninggalkan mudanya. Mendekati nisannya.


Dan tidak salah jika banyak yang menanti-nanti dengan gembira. Lagipula, orang bahagia dengan pergantian tahun. Orang juga butuh naik level ke step selanjutnya. Orang butuh menaiki tangganya. Melewati challengenya. Itulah gunanya pergantian tahun. Syukurlah jika banyak yang berbahagia dengan pergantian tahun. Bahagia itu tanda selamat.


Dariku, yang semalam, kupingnya ikut sakit, hihi.

7 komentar:

  1. Saya suka dengan penulisan kamu. Betul. Bukan perlu tunggu tahun baru, baru perlu berubah. Padahal setiap itulah yang perlu diusahakan untuk dapatkan cahaya kehidupan.

    ReplyDelete
  2. motivation of the day:"D *baru baca

    ReplyDelete
  3. halo sis cek blog saya tdk jual apapun trmqsh

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo sist terimakasi untuk waktu anda. selamat berakhir pekan *ngakak*

      Delete
  4. Sip, tanggal 13 Januari baru baca postingan ini TvT Btw, bagus postingannya Kak Hen >v<

    ReplyDelete


 

🎐 Template by Ipietoon Cute Blog Design