Menunggu Pagi



Titik Nol

Pagi kehilangan embunnya.

Ataukah memang belum ia temukan embun yg sesungguhnya? 

Perlukah terus menerus ia mencari? 

Atau, memang ini lah pagi yg sebenarnya?


"Malam begini.. Malam tetap begini..."

"Entah mengapa.. Pagi enggan kembali"


***

Pagi yang angkuh

Pagi mengira bahwa pergi melangkah jauh dengan prestasi adalah hal terindah dalam hidupnya. Dan akan berakhir bahagia seperti dalam film. Pagi yang bodoh dan terlalu naif itu mengira bahwa prestasi tak seberapa yang ia miliki dan ia bawa ke istana bisa membuatnya menjadi orang hebat. 

Ia yg sudah berpikir betapa menyenangkannya hidup dalam istana. Betapa banyak ilmu yg ia dapati. Betapa banyak perubahan dlm hidupnya. Betapa senang pulang membawa oleh oleh kesuksesan dg predikat murid istana terbaik di pundaknya yg selalu bisa membuat orang iri atau memuji terhadapnya. -- Pagi yang angkuh. 

Ibunya sempat khawatir jika pagi memilih pergi, akankah ia bisa menjenguk saat putrinya sakit? 

Pada saat keberangkatannya menuju istana, ia pamit di hadapan Ibunya dan memeluk sang Ayah. Ada wajah yg menaruh harap tertoreh di wajah kedua orang tuanya. Ada senyum penuh bahagia di wajah sang Ibu.

Pagi mengeluarkan sinarnya. Pagi pergi dengan membawa embun segar.

---

Pagi yang angkuh

Pagi pun yg sebelumnya merupakan bintang kelas, yg hidup dg biasa² saja harus menghadapi macam rupa isi istana yg ia tempati tsb. -- Pagi yang angkuh. 

Tahun pertama hingga tahun ketiga, ia masih tekun belajar dan hidup mengikuti arus. Ia tak terlalu bodoh dalam istana itu. Ia lumayan bisa menjawab segala bentuk pertanyaan diskusi walau ia sendiri tak mengerti apa arti jawabannya tsb.-- pagi yang angkuh. 

Ia jg aktif mengikuti beberapa acara dlm istana dan ataupun komunitas di dalamnya. Tahun keempat, ia jg berhasil berguru ke istana lainnya. Namun, itu berkat teman sekelompoknya yg pandai mengirim surel ke petinggi istana. -- Pagi yang angkuh. 

Lagi-lagi, ia membuat Ibunya tersenyum dan punya cerita ke tetangga. -- Pagi yang angkuh. 

Namun, apa yg terjadi setelah tahun ke empat?

Pagi jatuh sejatuh-jatuhnya ke lubang sedalam samudera. Badai lautpun mengoyakkan tubuhnya dan menghempaskannya ke tepi jurang setinggi gunung. Sedikit lagi ia akan terjatuh. Sedikit lagi.

Namun, apa yg ia lakukan utk bisa selamat dr tebing gunung?

tak melakukan apa². Hanya diam dan menunggu terjatuh ke dasar hutan lebat penuh serangga, hewan buas dan berhantu.

Ia sama sekali tak melakukan cara apapun utk bisa kembali ke tengah gunung dan turun dg selamat.

Di tebing gunung, ia hanya memiliki musik perangkat, dan tontonan dr perangkat. Usai puas mendengarkan lagu favoritnya dan menonton acara dan film favoritnya, ia pun tertidur spt tupai yg sedang hibernasi.

Hidup penuh tanpa tujuan, dimulai saat itu.

Cahaya yg ia bawa sudah redup. Pagi berubah menjadi gelap. Pagi berubah menjadi malam.

Ia pun terlalu banyak tidur hingga terjatuh ke dasar hutan belantara penuh hewan buas dan berhantu.

Ia ingin keluar tapi tak menemukan jalan keluar. 

Ia pun cuma berdiam diri tanpa memikirkan solusi utk keluar.

Pagi berubah menjadi malam yg dingin dan penuh keputus asaan. Penuh sepi.

***

Ternyata sampai saat ini, istana itu membuatnya tak percaya diri dan ia sudah tidak senang menjadi salah satu isinya. Pundaknya terlalu berat utk membawa nama besar istana itu.

Baru ia sadari bahwa, pertempuran dalam istana itu, bukan tentang apa yg diajarkan, bukan tentang kompetitor dan musuh di dalamnya. Akan tetapi pertempuran melawan dirinya sendiri. 

Ada macam jenis manusia hebat yg ia temukan dalam istana tersebut. Tapi tak satupun kehebatan tsb menular kepadanya.

Ia kalah dg dirinya sendiri 

..... 

Pagi yang angkuh


0 komentar:

Post a Comment


 

🎐 Template by Ipietoon Cute Blog Design