Aku masih mengamati cerita seorang Alfa Sagala. Mengikuti perjalanan hidupnya sedari kampung adat orang Batak, mencari kehidupan lain di Ibu Kota, menemukan arti kehidupan di belahan dunia Amerika, dan menemukan jati dirinya di negeri Tibet. Sedikit lagi, aku bisa mendapatkan kesimpulan mengapa ia terlahir sbg seorang peretas mimpi, apa tugas peretas mimpi, dan apa yang diinginkan para Sarvara dari seorang peretas seperti dirinya.
Hari sudah menunjukkan pukul empat sore. Ku tutup buku dongeng Gelombang, sekaligus menutup rasa penasaranku akan akhir dari kehidupan seorang Alfa Sagala. Lantunan suara Adzan telah berkumandang, pertanda alarm berjudul "mandi" harus ku jalani. Ritual soreku yang segar, untuk menghadap Tuhan. Setelahnya, aku bernegosiasi dengan adik akan kebutuhan berbuka puasa.
Aku merapikan diri di cermin, lalu kutancapkan kunci sepeda motorku. Melengganglah aku ke sebuah pusat keramaian sore-sore, yakni Masjid Agung yang berpapasan dengan kantor bupati, tugu syukur dan dikelilingi oleh ruas-ruas jalanan yang indah. Cukup indah untuk jalan-jalan sore dengan pepohonannya yang rindang, bunga-bunga penghias, dan rumput-rumput yang tertata rapi. Pengusaha-pengusaha jalan sore berwajah gerobak pop ice, odong-odong dan mobil-mobilan untuk anak-anak turut mempertegas pusat keramaian sore.
Satu per satu, aku memotret pemandangan pemandangan sore hari itu. Dari mulai jalanan yang diapit pepohonan rindang, hingga ibu-ibu kewalahan mengikuti arah anaknya yang mengendarai mobil-mobilan.



0 komentar:
Post a Comment