"Mak", begitu aku memanggilmu...
Aku memanggil ketiadaan. Kini panggilan itu hanya terdengar kata-katanya saja. Tidak sampai menembus ke relung jiwa. Panggilan yang tak berwujud lagi. Yang biasanya berwujud saat aku ingin mengadu, saatku kesakitan, saat-saat titik terendah menghampiriku. Namun kini panggilku terasa istimewa lewat sajadah yang menengadah dan ayat suci yang menjadi lebih sering terlantun dari sebelumnya.
Aku masih ingat pertemuan kali terakhir kita..
Sore itu, sunyi. Hanya ada aku dan kau. Lalu Bapak datang. Kemudian disusul adzan Ashar. Betapa bodohnya aku yang memilih sembahyang di lantai atas rumah sakit, yang tumben-tumbennya, yang biasanya aku menghadap Tuhan di sampingmu. Lalu, sekembalinya aku, kau pergi, persis di hadapan Bapak. Nafas terakhirmu, tak ku temui. Aku cemburu. Mengapa hanya Bapak yang dapat bertemu denganmu disaat-saat terakhir. Aku marah pada diri sendiri yang tak pernah mengucap maaf dan terimakasih disisa akhir hidupmu. Namun, melihat kalian berdua, aku tersadar akan satu hal, betapa sejatinya kalian.
Mak, aku ingin cerita..
Sakit ku sudah mereda. Suara buruk itu perlahan mereda. Perasaan ini itu yang sering menyerangku, telah ku bodoamatkan. Aku tak takut lagi untuk melihat dunia. Mengarungi betapa indah dan menyeramkan isinya. Dan sekarang aku mulai berkawan lagi. Semoga kemajuan lainnya menyusulku. Seperti keinginanmu melihatku memakai toga dan menjadi manusia yang berguna. Do'akan aku dari sana ya Mak. Kalau bisa, sampaikan salamku pada Tuhan. Bisikan Dia, agar aku dimudahkan. Dan keluarga kita selalu dalam kebaikan.
Hal yang paling terasa..
Rumah ini sekarang kehilangan chef terbaiknya serta komunikan terbaiknya. Kata adik, tidak ada yang dapat mengikuti masakanmu. Kataku, tidak ada yang bisa sepertimu yang menebar kehangatan dengan orang-orang. Kau meninggalkan banyak ingatan.
Ingatkah kau Mak?
Bagiku, tidak ada hal yang lebih lucu dari wanita cantik dihadapanku dengan busa shampoo dikepalanya sembari marah-marah, "bau ti nar-nar tu mayar aik galon soo!! (bisa sih kita bayar besok-besok air galonnya!!)
Siang itu, Mak sedang mandi, lalu 5 air galon tiba di rumah. Aku panik, uang ada di Mak. Aku pun menggedor-gedor pintu kamar mandi memanggil "Mak~ Mak~". Mak pun yang ternyata sedang asyik bershampoo ria, terpaksa kembali mengenakan bajunya, namun kepalanya masih dengan busa shampoo. Mak pun keluar dari kamar mandi dan Boom! aku kena sempot :D
Terimakasih Mak sudah menjadi Ibu terbaik untukku, Inggar juga Ariel. Dan menjadi kekasih sejati terbaik untuk Bapak.
Selamat jalan "Nike Ardilaku" ❤

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥ Titip doa untuk Ibu kakak, bahagia dan ditempatkan di tempat terbaik di sana. Aaamiin ya rabbal alaamiin ♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
ReplyDeleteTerimakasih dek Radin atas do'anya ❤❤❤❤❤
Deletesemoga ibu mu ditempatkan dikalangan orang beriman, inshaAllah ameen ya. kamu kuat ya.
ReplyDeleteIya Amin ya Rabbal Alamin, terimakasih atas do'anya Lady Diyy~
Deletesemoga ibumu diterima disinya ya Hen. I'm so sorry for your lost
ReplyDeleteIt's okey.. Makasih do'anya ya Dzaa
Delete