"Gadis Pantai" Karya Pramoedya Ananta Toer




"Gadis Pantai"
Karakter : Gadis Pantai, Bendoro, Si mBok, Emak, Bapak,
 Mardinah, Kakek Kampung, Dul Si Pendongeng
Genre : Novel, Roman, Kolonial, Historic

Pada setiap bukunya, Pak Pram banyak bertutur bagaimana menjadi bagian dari masa yang lain (bukan era sekarang). Masa-masa pergolakan. Bangsa, kelas, pribumi, pembesar, feodalisme, priayi, kompeni, bahkan mahalnya kehormatan dan nasi ada di dalam setiap bukunya. Gadis Pantai bukanlah seperti yang kamu bayangkan. Pada roman ini, yang terasa kental adalah feodalisme jawa pada sistem stratifikasi kaum "Priyai" dan kemerosotan kaum feminis di zaman Hindia-Belanda. Dua kelas yang dibedakan.



Perbedaan kelas pada konteks "Gadis Pantai" ini punya istilah yang selalu bergeming, yaitu "Sahaya dan Bendoro/Pembesar). Karakter Si mBok sebagai bujang dalam novel ini banyak memberi gambaran bagaimana berbedanya kedua kelas tersebut.


Q : "Apa itu orang kebanyakan?" A:"Orang kebanyakan, ya, sahaya inilah" "Ya, orang kebanyakan seperti sahaya inilah, bekerja berat tapi makan pun hampir tidak" (hlm.54)
Q : "Mengapa mBok tak balik?" A: "Bagi orang sudah tua seperti sahaya ini, siapa yang beri makan di sana? Semua pada hidup susah." (hlm.55)
Q : "Apa yang disusahkan sebenarnya?" A: "Bocah kecil, kecil juga susahnya, bocah gede, gede juga susahnya. Orang tua semacam sahaya ini semua serba susah. (hlm. 56)
Q : "mBok dipukuli di kampung?" A: "Dipukili benar memang tidak. Tapi ada saja dan siapa saja boleh pukuli orang-orang kebanyakan sepeti sahaya ini" (hlm.56) 
Q : "Mengapa mBok tidur dibawah? Mengapa tak mau disampingku sini? A: "Dosa pada Bendoro, pada Allah, seperti sahaya begini menempatkan diri lebih tinggi dari lutut Bendoronya" (hlm.64)
"Waktu Pangeran Diponegoro kalah perang--kakek lagi bersama seorang priyai yang juga ikut huru-hara. Waktu Priyai menyerah, kakek juga ikut. Waktu priyai diangkat jadi pembesar, kakek diangkat menjadi sahayanya, tidak lebih dari sahayanya, seperti sahaya sekarang ini." (hlm.57)

Sang pembesar yang disebut sebagai "Bendoro" merupakan kaum bangsawan yang memiliki dominasi ngga main-main. Mereka kaum terpelajar, bertata krama, pandai mengaji, dan mempunyai energi besar dalam menguasai tanah Jawa. Mereka menguasai wong cilik dan bersimbiosis dengan penjajah (Belanda). Mereka memandang rendah para pribumi, dan menjadikannya budak. Budak itu, salah satunya si Gadis Pantai. Gadis Pantai adalah anak seorang nelayan yang hanya dikawini dengan keris sebagai wakil dari yang mempersunting. 

Seperti zaman Siti Nurbaya, Emak-Bapak Gadis Pantai menjodohkan anak gadisnya yang masih berusia 14 tahun dengan seorang Bendoro--seorang pembesar di tengah kota yang bekerja pada elite birokrasi Belanda. Gadis pantai yang masih remaja dan manis, tak tahu apa-apa merengek pada emak dibalik bedak tebalnya. Tak rela ia meninggalkan kebahagiaan sederhana kampungnya, bau amis pantai, tumbukan udang. Emak dan Bapak, dikiranya sang anak akan bahagia. Dikiranya sang anak menjelma menjadi seorang pembesar, tak lagi menjahit jala ikan tapi sutera, tak lagi buang air di pantai yang amis, malah sengsara yang didapat Gadis Pantai dalam gedung besar milik Bendoro itu.


Ia menjadi budak (istri) percobaan untuk sang Bendoro yang dipanggil sebagai "Mas Nganten". "Para priyai besar, mereka kawin supaya jadi senang" (hlm.56). Perempuan dari kalangan sahaya tidak berarti apa-apa, melainkan objek pemuas laki-laki. 



"Wanita utama, mesti belajar-mesti bisa melegakan hati Bendoro" (hlm.35)
Q : "Kemanakah biasanya Bendoro pergi?-sampai berhari-hari begini?" A : "Ah, Mas Nganten, itu urusan pria dengan pekerjaannya. Jangan ikut campur, karena wanita tak tahu apa-apa tentang itu. Kita hanya tahu daerah kita sendiri : rumah tangga yang harus kita urus" (hlm.78)
"Perempuan diciptakan ke Bumi, Mas Nganten, barangkali memang buat dipukul lelaki. Pukulan itu apalah artinya kalau dibandingkan dengan segala usahanya buat bininya, buat anak-anaknya."  (hlm.95)
"Betapa mahalnya pengetahuan disini. Aku harus belajar segala, dari membatik, menyulam, sampai membaca dan mengaji. Terkecuali belajar tentang suami sendiri, bahkan juga pendapat suami tentang istrinya" (hlm. 87) 
Q : "Apakah di kota, suami-istri tidak tidak pernah bicara?" A : "Di kota perempuan berada dalam dunia yang dipunyai lelaki, Mas Nganten".  Q : Lantas apa yang dipunyai perempuan kota? A : Tak punya apa-apa Mas Nganten, kecuali kewajiban menjaga setiap milik lelaki. Q : Lantas milik perempuan itu sendiri apa? A : Tidak ada Mas Nganten. Dia sendiri milik-lelaki" (hlm.87-88)

Cuplikan percakapan diatas menggambarkan kesenjangan dalam garis gender. Bagaimana posisi perempuan sangat dikesampingkan. Setelah hidup di gedung kediaman Bendoro, Gadis Pantai harus belajar menguasai urusan domestik rumah tangga, membatik, dan belajar tata krama untuk melayani Bendoro. Meski ia adalah istri Bendoro, yang artinya statusnya dari anak Nelayan menjadi istri seorang pembesar, namun statusnya tetap jauh dari sang Bendoro. Banyak sekat-sekat aturan yang tidak mengubah apapun dari posisi Gadis Pantai. Ia adalah istri percobaan sampai Bendoro menemukan wanita ningrat yang sepantaran dengannya. 

Dan yang berubah hanyalah, Gadis Pantai tidak lagi tinggal di kampungnya sendiri-kampung nelayan. Selebihnya, ia tetaplah seorang sahaya. Kalau hendak kemana-mana dan melakukan apapun, harus medapat izin terlebih dahulu dari Bendoro. Bahkan di gedung tempat ia tinggal, ia hanya boleh berkeliaran di dapur, meja makan dan tempat membatik. Ia tidak boleh menginjak ruang tamu,  tempat dimana tamu-tamu penting Bendoro bertandang. *Aku rasa ini seperti masa-masa pergolakannya pahlawan kita ibu Kartini yaa*


Perempuan pada saat itu belum menemui titik eksistensinya. Penelitian dari Sumartini : 2008 menghasilkan bahwa perempuan dalam Gadis Pantai masih menempati posisi di sudut-sudut yang terpinggirkan, dalam arti bahwa perempuan belum mendapatkan eksistensi diri sebagai manusia yang utuh dan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Potensi perempuan yang masih berkisar pada kecantikan fisik, keterampilan domestik menjadikannya tetap berada pada posisi yang tersubordinasi. Perempuan yang diasingkan serta dibatasi hak-haknya sebagai manusia yang merdeka.


Selain gambaran tentang gender dan perlakuan kelas atas kelas, terdapat pula gambaran koloni si Belanda.



"Sahaya dikirim ke Jepara sana buat kerja rodi, tanam coklat. Suami sahaya ikut. Empat bulan lamanya. Anak sahaya gugur sebelum dapat menghirup udara. Perut sahaya disepak mandor. Tiba-tiba pembesar Belanda datang dengan orang kompeni. Mandor menarik-narik tangan sahaya supaya kerja lagi. Tapi sahaya sudah lemas. Dia sepak perut sahaya." (hlm.61) 


"Tiga bulan sahaya tidak bangun, Mas Nganten. Masih juga kaki sahaya di rantai. Waktu rantai dilepas, sahaya dibawa--entah kemana. Sahaya ditelentangkan di lantai dingin, dan tiga orang Bendoro menanyai sahaya berganti-ganti. Seorang Belanda melihat pada sahaya. Dia tidak tanya apa-apa. Cuma bilang : anjing" (hlm.63) *pas baca ini aku reflect ngikut sebut anj*ng >,< kejam kau kompeni, mandor, bendoro, kejaam*  
"Inilah diri sahaya yang segumpil ini. Sebagian besar habis buat rodi di kebun coklat" Q : "Mengapa tak lari?" A : Mau lari kemana? Di sana kompeni. Di sini kompeni. Bapak sahaya seratus delapan puluh tahun umurnya, baru meninggal. Tapi sahaya empat puluh sudah begini reyot, kehabisan tenaga, Bendoro Putri". (hlm.143)


KARAKTER LAIN DALAM GADIS PANTAI

Kakek Kampung : Sosok kakek tangguh, pengalamannya banyak tapi kadang nyebelin, keras seperti batu, tipe-tipe kakek kampret wkwkw tapi pahlawan kampung, menyelamati kampung dari para pembajak. 

"Emas itu biang keladi di daratan-- mutiara biang keladi di lautan. Tambah banyak barang emas masuk kemari, tambah banyak kemungkinan bajak datang" "Bodoh semua! Begitulah polisi kota. Mereka digaji buat jaga emas priyayi, saudagar-saudagar Tionghoa, Belanda dan haji-haji. Goblok! Bodoh! Cuma kerbau tidak mengerti." (hlm. 194) .

ya, Kakek tua kampung nelayan sangat membenci emas dan para Tionghoa. Karena dalam Gadis Pantai, para te-tionghoa akrab dengan emas. Biasanya, mereka adalah pengusaha emas. Dan emas bisa menjadi mala petaka bagi kampungnya. Karena emas, para pembajak bisa datang menghancurkan kampungnya.

Si Dul sang Pendongeng : pemalas--cuma tau mendongeng, main rebana sambil bersyair seperti orang gila. Mau ngomong pun dengan syair -.- Meski begitu, syair dongengnya suka bener. Seperti orang pinter yang bodoh (?) Tidak bisa kerja di laut seperti orang sekitarnya, namun setelah mendapatkan jodoh barulah ia bisa normal dan bekerja mengarungi lautan. 
"nangkap selar menyombong-nyombong omongnya besar kepalanya kosong seumur-umur makannya cuma ikan pantas otak buntu perut cacingan"  (syair si Dul hlm. 200)


Man si penggerek Dokar : sabar, nerimo.

"Tidak ada binatang yang lebih menyenangkan daripada kuda, Bendoro Putri. Makannya cuma dedak dan rumput, tapi dia beri anak bini sahaya segala yang kami btuhkan. Sahaya tidak perlu cari dia seperti ikan" (hlm 173) 
Q : "Kau tak pernah cambuk dia?" A: "Hanya orang dan binatang bodoh saja kena cambuk, Bendoro Putri" "Itulah susahnya ditakdirkan jadi kuda dan orang seperti sahaya. Dan hanya orang seperti sahaya yang kebagian cambuk seperti si Gombak (kuda). Tetapi kalau terus menerus, tentu siapa saja tidak bisa terima." (hlm. 149) 
Q : "Kau tak suka laut rupanya" A: "Kalau semua ke laut siapa yang ke darat, Bendoro Putri? Biarlah mereka mendapat makan dari ikan, sahaya lebih senang dari kuda. Cukup satu sajalah binatang sahaya. Sahaya lebih suka darat, kalau mati ketauan dimana bangkainya" (hlm.142)

Ketiga karakter pendukung ini lucu. Agak mencairkan suasana tegang antara sahaya dan bendoro --"

Mardinah : Sombong, omong besar tapi kosong, jadilah Si Dul jodohnya. Dia ini tipe-tipe orang rese yang harus dijauhi wkwkw, lucunya setelah ketemu si Dul dia jadi baik. 



-------

Akhir kisah Gadis Pantai sendiri menyedihkan. Ia diusir setelah melahirkan bayi perempuan. Karena zaman itu anak laki-laki diutamakan. Gadis Pantai bahkan tidak diperbolehkan mengasuh anaknya sendiri. Ia diusir. Emak dan Bapak mengajaknya balik ke kampung nelayan tetapi ia tidak mau. Ia hijrah ke Blora memulai hidupnya disana dengan misi kemerdekaan perempuan dan mencari si mBok yang juga terusir gara-gara kenakalan para Agus-Agus (anak-anak Bendoro dari berbagai macam istri percobaan). Si mBok adalah orang yang berjasa  semasa Gadis Pantai di gedung neraka itu. 



***
 Sebenarnya masih banyak yang bisa dibahas, banyak kata-kata dan kisah menarik yang aku stabiloin di novel ini. Tapi nanti ga selesai-selesai. Ini aja udah pada ngantuks hehe. Selebihnya, ayo ketemuan sama bukunya xD

♫☆

7 komentar:

  1. Woaaah kayaknya rame, nih :D Aku belum pernah baca novel berat sebelumnya, Kak. Mungkin ini bisa jadi yang pertama kubaca :)

    ReplyDelete
  2. Aku juga mau baca buku ini kak. Katanya sih bagus akhirnya mau coba baca. Eh mampir ke kak hen ada reviewnya jadi tambah tertarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.. Iya dik Ann baca sajaa :)

      Delete
    2. Sedang aku baca kak. Harus konsentrasi kalau baca ini soalnya bahasanya agak beda dari novel2 yang laen. Tapi aku benar2 suka sama konflik yang dihadirkan kadang membuatkuu seball sendiri

      Delete


 

🎐 Template by Ipietoon Cute Blog Design