[Cerpen] "Suara tengah Air"


“Suara tengah Air”

Ilustrasi : Heny Listiya

***
Cerpen "Suara Tengah Air" adalah tugas dari komunitas menulis bernama "Rumpun Nektar" yang ditulis pada tahun 2018. Berikut cerita selengkapnya. 

"Suara Tengah Air"
Oleh : Heny Listiya Febrianti



“Anak jawa pulang ke Jawa

Sampai di Jawa berjual ragi

Tuan ketawa saya ketawa

Sama-sama tak ada gigi” 

Sorak sorai anak-anak kampung Melayu terdengar dari bilik bambu bangunan tengah air yang aku dan Abah putuskan berdiri tiga tahun silam. Badrus dengan pantun lawakan konyolnya membuat kawan-kawannya terpingkal-pingkal. Entah apa pula yang mereka cakap kan, yang jelas perahu tempat tongkrongan mereka menjadi terbalik.
Byurrr, mereka tercebur. tawa sumringah mereka semakin menjadi-jadi. Saking asyiknya berlawak. “Diminta tolong ambil beduk dalam bilik, yang diambil bedak.. Apapula kakek ompong”
Dah tak ada gigi, pekak pula” 
“Haahahahahaha” semua ikut terbahak-bahak sembari berenang ke tepi..
Laki-laki setengah baya bersarung dan peci hitam di kepalanya datang menghampiri ; Abah.
 “Hee budak, kau orang cakap apa barusan.. nanti dapat batunya, kualat kau orang..”
“He he he Bah, Abah, coba tengok ke atas”
Abah pun menengok sesuai perintah.. dan anak-anak pun berlari terbirit-birit.. Abah di kibuli.
***
Tidak ada hal paling membahagiakan melainkan menyaksikan anak-anak tersenyum. Mereka paham akan sebuah pendidikan sudah cukup bagiku dan Abah. Karena tidak mudah membujuk mereka mau bersekolah. Aku sempat menyerah ketika mereka mengatakan kalau cita-citanya membantu Ayah – menjadi seorang Nelayan . Mereka lebih memilih melaut ketimbang duduk dibangku dan berkenalan dengan huruf-huruf juga angka-angka. “Belajar tidak menyenangkan, nanti tetap saja bakal jadi nelayan” ujar salah satu dari mereka ketika aku mati-matian membujuk. Aku ingat betul.

Malam ini sungguh berbeda.  Gegap gemintang menampakkan wajahnya walau tidak begitu ramai. Angin laut terasa bersahabat. Aku yang sedari tadi merenung di atas tangga rumah panggung bersekatkan kayu – tempatku dan abah menghabisi siang dan malam –, tersadar oleh panggilan Cimay – si anak melayu-tionghoa –.
“Akak Guru Nilam~ cepat sini, cepat sini.. bakaran Gurame dan kawan-kawan dah berbau sedap ni”

Di malam yang bersahabat ini, kami bersantap di tengah-tengah air yang tenang. Anak-anak bernyanyi sembari bertepuk tangan, Ampar-Ampar pisang menjadi andalan tembang andalan untuk sebuah permainan. Usai membuat keramaian, suasana pun hening. Disitu, Abah juga memberi petuah-petuahnya. Abah selalu berkata,
“jangan bosan-bosan mencari tahu dalam menuntut ilmu, dan jadilah seperti air” sembari menunjuk dasar laut. “Ia mengalir dan punya guna bagi semua makhluk. Kalau banyak-banyak mencari ilmu, kalian harus dapat mengalirkan ilmu kalian ke banyak orang. Jadilah bermanfaat dengan ilmu yang kalian punya.” 
“Tuh, coba kau tengok cahaya bulan yang nampak di permukaan air, elok niannya rembulan. Seperti itu pula cahaya ilmu bila dikejar dan diamalkan sampai mati. Kita mati pun, ilmu yang kau sampaikan tetap hidup, dari situlah amalmu tetap mengalir walau tubuh kau dah tiada, Paham?” tanya Abah
“Paham, Abah” seru anak-anak

“Mangata!” seru Uci yang sedari tadi menatap Bulan.
“Apa? Kau cakap apa? Timpal Juki
“Akak Guru bilang, Bulan yang bayangan cahayanya nampak di air disebut Mangata. Hayo kau orang lupa laa dengan pelajaran sastra”
“Betul, itulah Mangata. Sepakat dengan Abah, ilmu dan amal itu cahanya indah seperti Mangata. Semua orang bisa melihat dan merasakannya meski di tempat yang berbeda. Elok.” Kataku.

“Bah, kenapa hanya kita yang susah payah mencari ilmu? Kenapa orang lain seperti di kota tak perlu susah payah berenang dan berjalan menerjang semak-semak untuk dapat tiba di sekolah?” tanya Tian
“E e e e budak, tak payah bercakap macam tu.. itu karena Tuhan dah kasi bagian masing-masing untuk setiap makhluk ciptaan-Nya. Ada hikmah dibalik semuanya, kita orang jadi pandai berenang dan terbiasa berjalan jauh terjang bukit-bukit, tau rasanya berjuang, yang lain mana tentu? Semua dah diatur dan punya porsi masing-masing. Tapi Abah yakin, barang siapa yang berjuang pasti jadi orang.”

“Nah kau orang janganlah malas-malas, tak patut hidup susah seterusnya susah. Bantu orang tua tak cuma bisa dengan jadi penerus mereka bernelayan, kalian dapat bantu orang tua dengan belajar yang rajin. Orang tua kau pasti senang punya anak kau orang bila kelak jadi orang sukses. Yakinlah, tak patut putus asa!” sambungku.

“Kenapa ilmu harus dibagi ke orang lain? Kita susah-susah cari, orang lain dapat begitu saja?” Pertanyaan dari Cimay.
“Naaa, kenapa ilmu harus dibagi? Karena kita ini satu sama lain saling terhubung. Uci bisa jadi penyebab dan alasan untuk Cimay, begitupun sebaliknya. Abah pernah baca buku, katanya hidup adalah sebab akibat. Aku bisa menjadi sebab akibat untuk Nilam dan kau orang, begitupun sebaliknya. Artinya, kita semua di dunia ini sebetulnya saling terhubung satu sama lain, maka dari itu harus tetap jaga silaturrahmi yang baik dan saling berbagi dalam kebaikan. Tak hanya makanan atau barang yang bisa dibagi, ilmu pun harus dibagi tanpa adanya rasa sombong, buang jauh rasa egois dari diri kita. Jangan karena kita dah susah payah belajar, lalu enggan mengajari teman. Setiap apapun yang baik, bagilah.” Jawab Abah.

“Dah dah, masuk rumah sekarang, dah larut, saatnya istirahat.” Perintahku

Malam telah begitu larut, udara semakin terasa dingin. Cengkrama malam ini begitu bersahabat seiring bersamaan dengan malam yang tenang. Kamipun beranjak dari atas perahu. Setengah dari kami mengurus perahu, setengahnya lagi membereskan barang-barang yang kami gunakan untuk bersantap ria tadi. Melihat Uci yang membereskan gelas atas meja perahu, membuatku tersadar akan satu hal, yaitu jejak air yang berembun dari gelas. Ah! Cengkrama malam ini ditutup dengan jejak kulacino.

***

Sumber Pantun :
Majod Ali. 2006. “Siri Koleksi Pantun Kanak-Kanak Bertema Pantun Jenaka”. Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd. Kuala Lumpur.


Special thanks to editor from Rumpun Nektar.





Inspired by Thai Movie "Teacher" & Quote from Tere Liye in "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" Novel (Quote tentang "Hidup adalah Sebab-Akibat")

         ***
°°

3 komentar:

  1. Bahasanya bagus uhuy >•<
    Cerpen yang diisi dengan ilustrasi sendiri. Wawww *_*

    ReplyDelete
  2. Uwaa keren. ceritanya hidup banget. Berasa betulan ada di sana XD. cara menjelaskan 'mangata' dan 'kulacino' nya keren banget. keren pokoknya><!

    ReplyDelete
  3. Bagus ceritanya kaa >v<

    ReplyDelete


 

🎐 Template by Ipietoon Cute Blog Design